TIM PEMENANGAN CAPRES (1)
Selasa, 16 Juni 2009 | 03:20 WIB
Dibandingkan dengan kampanye Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat pada pemilu legislatif lalu, kampanye SBY dan Boediono pada pemilu presiden tidak banyak berubah.
Fox Indonesia, yang merupakan ”penjaga rasa” SBY, ketat mempertahankan rasa itu sampai puncak kampanye dengan target memenuhi Gelora Bung Karno, Jakarta, 4 Juli 2009, hari terakhir kampanye.
Oleh Fox Indonesia yang dikomandani Choel Mallarangeng, kampanye di 10 kota di luar Jakarta didesain tertutup dengan peserta maksimal 3.000 orang.
Peraga kampanye berikut keseluruhan isi panggungnya disiapkan dan dikirim dari Jakarta. Event organizer terbaik dari Jakarta yang terdiri dari tiga tim, masing-masing 50 orang, dilibatkan dalam proyek besar ini.
Meskipun hanya mengundang ribuan orang, materi tiap kampanye tertutup SBY diharapkan dapat ”dikunyah” 30 juta rakyat. Iklan di media massa yang telah dirancang dan peliputan acara itu diharapkan dapat menggandakan dukungan terhadap SBY.
Minimalnya pelaksanaan model kampanye terbuka menjadi pembeda kampanye pemilu legislatif dan pemilu presiden untuk SBY yang digarap Fox Indonesia.
Perbedaan kampanye ini, menurut Choel, bisa menghemat biaya sampai seperlimanya. ”Kami hanya membuat kampanye terbuka di Jakarta sebagai puncaknya,” ujar Choel.
Tim terdekat
Meskipun model dan target kampanye SBY berbeda, orang yang berkerumun di belakang SBY selama kampanye tidak banyak berbeda.
Sebut saja mereka dari yang paling dekat, yaitu istrinya, Ny Ani Yudhoyono, dan putra bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono. Keduanya ikut dan menjadi peraga saat ke mana pun SBY berkampanye.
Berikutnya, paman Edhie yang menjadi Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Hadi Utomo. Hadi juga selalu didampingi istrinya, yang adalah kakak Ny Ani. Di jarak terdekat berikutnya adalah pengusaha yang menyediakan Jakarta International Expo sebagai basis perjuangan SBY, Hartati Murdaya.
Di deret berikutnya ada dua Mallarangeng lain, kakak Choel, yaitu Andi dan Rizal. Andi adalah Juru Bicara Kepresidenan yang juga Ketua Demokrat.
Adapun Rizal adalah komandan Freedom Institute yang berada di belakang kampanye Boediono. Rizal dibantu oleh beberapa teman-teman seidenya, antara lain Goenawan Mohammad.
Visi dan misi SBY-Boediono lima tahun mendatang adalah menghadirkan pemerintahan yang baik, bersih, dan bertanggung jawab. Bersih dirincinya sebagai bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Seruan itu diulang-ulang di setiap tempat kampanye yang dimulai di GOR Ken Arok, Malang, Jawa Timur. Pengulangan dilakukan untuk mengingatkan rakyat, KKN-lah yang memperdalam krisis 11 tahun lalu.
Selain yang sudah disebutkan, ada orang lain dalam kerumunan dan menjadi ”komandan”. Dia adalah mantan Panglima TNI Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, tetangga rumah SBY. Djoko lebih intensif ikut kampanye mewakili Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, yang menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono.
Partai koalisi
Dalam rangkaian kampanye pertama ke tiga kota, yang ada dalam kerumunan adalah empat petinggi partai mitra koalisi, yaitu Tifatul Sembiring (PKS), Muhaimin Iskandar (PKB), Suryadharma Ali (PPP), dan Zulkifli Hasan (PAN).
Meskipun diundang ikut serta di setiap kampanye, sejauh ini tak terlihat peran mereka selain mengangkat-angkat alat peraga kampanye bersama massa.
Selain yang selalu ikut, ada juga beberapa tokoh yang kerap ada dalam kerumunan. Mereka antara lain tiga ekonom pendukung pemerintah, yaitu Chatib Basri, M Ichsan, dan Raden Pardede. Mereka bertiga lebih sering hadir bersama Boediono.
Dukungan menteri
Untuk kesempatan lain, seperti saat deklarasi di Bandung, terlihat juga dalam kerumunan antara lain Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian/Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, serta Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.
Saat kampanye di GOR Ken Arok, SBY menegaskan sikap yang dipahaminya sebagai sikap kesatria lantaran taat aturan Komisi Pemilihan Umum. Dengan patokan dirinya, SBY menilai etika politik para penantangnya tidak baik.
Sekali lagi, mereka yang berkerumun di belakangnya bertepuk tangan riuh. Mungkin tanda setuju atau mungkin menghargai pemandu tepuk tangan yang sudah mengawalinya.
(Wisnu Nugroho)
Wednesday, June 17, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment