Saturday, February 28, 2009

Calon Legislator Butuh Miliaran Rupiah

Koran Tempo
Edisi 01 Maret 2009
Print

Dewan bukan lagi tempat pengabdian.

JAKARTA -- Ongkos politik bagi seorang calon legislator agar bisa terpilih dan masuk Senayan dalam pemilihan mendatang bisa mencapai miliaran rupiah.

Ade Daud Nasution, calon legislator dari Partai Amanat Nasional, mengaku sudah menguras dana hingga Rp 1,5 miliar untuk sosialisasi agar dikenal para pemilih.

"Saya juga buka kantor di Malaysia," kata Ade dalam diskusi "Caleg Berkualitas" di Jakarta kemarin.

Pada pemilihan mendatang, mantan politikus dari Partai Bintang Reformasi ini dipasang Partai Amanat Nasional untuk daerah pemilihan Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan luar negeri (Malaysia).

Kantor di Malaysia, Ade melanjutkan, akan dimanfaatkan untuk menjaring suara pemilih di negeri jiran tersebut. Untuk sosialisasi di Malaysia, ia telah mengalokasikan sebesar US$ 35-40 ribu. "Termasuk untuk pasang iklan koran di sana," katanya.

Ade mengatakan masih menyiapkan Rp 100 juta lagi untuk sosialisasi hingga hari pemilihan 9 April nanti. Ia memastikan, uang sebanyak itu tak semua berasal dari koceknya. "Sebanyak 80 persen dari fans saya," kata Ade.

Sejumlah calon legislator yang dihubungi Tempo memberikan angka berbeda. Ganjar Pranowo, calon legislator Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan daerah pemilihan Jawa Tengah, menyebut angka Rp 250 juta. Agus Purnomo, calon dari Partai Keadilan Sejahtera daerah pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalokasikan Rp 300 juta.

Rully Chairul Azwar, calon dari Golkar daerah pemilihan Bengkulu, merogoh Rp 500 juta. Angka terkecil diungkapkan Roy Suryo. Calon legislator dari Partai Demokrat daerah pemilihan Yogyakarta ini mengaku hanya mengeluarkan Rp 50 juta.

Menurut budayawan Ridwan Saidi, mahalnya ongkos untuk jadi legislator akan membuat Dewan tak lagi menjadi tempat pengabdian. "Tapi tempat mengeruk uang untuk mengembalikan modal sosialisasi mereka," kata dia. "Ini bukan lagi tempat pengabdian, tapi komersial."

Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia Sebastian Salang sepakat dengan Ridwan. Ia bahkan memperkirakan modal calon legislator untuk duduk di Senayan bisa mencapai Rp 5 miliar.

Dengan ongkos sebesar itu, kata dia, tak mustahil anggota Dewan nanti cenderung berpikir untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan.

"Mereka cenderung mencari keuntungan," kata Sebastian. Komisi Pemberantasan Korupsi, menurut dia, bisa menjadikan kontrak politik antikorupsi sejumlah partai yang diteken beberapa waktu lalu sebagai dasar untuk mengawasi para calon legislator.

Ade Daud membantah dugaan bahwa besarnya ongkos politik ke Senayan akan membuat calon legislator yang terpilih cenderung mencari keuntungan agar segera balik modal.

Untuk mengabdi sebagai legislator di Senayan, menurut Ade, anggota Dewan harus sudah berkecukupan materi. "Anggota Dewan harus yang sudah cukup makan," kata Ade. DWI RIYANTO | CORNILA DESYANA | DIANING SARI | DWI WIYANA

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/03/01/headline/krn.20090301.158302.id.html

Thursday, February 26, 2009

Caleg Pinjam Kredit Bank untuk Kampanye

Kompas
JAKARTA, KAMIS — Ada beberapa caleg sampai mengambil kredit bank untuk membiayai kampanye mereka. Demikian diungkap anggota Komisi IV Masduki Baedlowi di sela diskusi "Menakar Komitmen Partai Politik dan Caleg untuk Memperbaiki Pendidikan" di Jakarta, Kamis (26/2).

"Caleg-caleg sekarang beda dengan yang dulu. Saat ini sampai ada yang berani mengambil kredit bank untuk kampanye," kata Masduki.

Menurut Masduki, ada 4 faktor yang membuat mereka bisa seperti itu. Pertama, keputusan MK yang menyatakan mereka yang terpilih berdasarkan suara terbanyak sehingga parpol sulit untuk mengontrol kadernya. Kedua, jumlah parpol yang sangat banyak yaitu 38 partai politik. Ketiga, caleg tidak lagi mengabdi kepada parpol tetapi kepada rakyat yang memilihnya. Empat, rakyat merasa apatis dengan DPR dan pemerintah karena mereka memandang yang sejahtera hanya pejabat saja sedangkan mereka tidak. Lalu ketika diminta memilih caleg, mereka berkata, "Kalau mau dipilih kamu berani bayar berapa," kata masduki.

Hal inilah yang membuat kompetisi caleg dari nomor satu sampai terakhir sangat terbuka. Sampai-sampai cara-cara yang sulit dibayangkan seperti ambil kredit bank bisa terjadi.

Thursday, February 19, 2009

Mahalnya "Ongkos" ke Senayan...

Inggried Dwi W
Kompas Online, 19 Februari 2009

TAK ada yang gratis di dunia ini. Politik pun punya tarif, mahal. Siapa yang bisa menyangkalnya? "Ongkos" menjadi politisi Senayan pun terbilang lumayan. Sejumlah calon legislator DPR yang ditemui di sela-sela Pertemuan Nasional Caleg Golkar, Rabu (18/2), tak menyangkalnya. Hingga 50 hari menjelang eksekusi pemberian suara, uang ratusan juta sudah keluar dari kantong mereka.

Pasti tahu siapa Tantowi Yahya. Entertainer kawakan yang kini menjadi caleg DPR Golkar di Daerah Pemilihan Sumatera Selatan 2 ini tak bisa hanya mengandalkan popularitasnya. Secara jujur ia mengatakan, paling tidak budget sebesar Rp 1 miliar harus disiapkan untuk kepentingan kampanye. "Paling enggak, ada 1 M-lah. Semakin susah dapilnya, semakin mahal, yang punya duit aja belum tentu menang, apalagi yang enggak punya duit," kata Tantowi.

Ia mengatakan, selain untuk pengadaan atribut kampanye, biaya perjalanan Jakarta-Palembang termasuk menguras jumlah yang besar. Insentif dari DPP Golkar sebesar Rp 500 per suara bagi caleg yang tidak terpilih pun disambut baik kakak Helmy Yahya ini. "Walaupun pasti enggak akan menutupi pengeluaran," ujarnya.

Aktor sinetron Jeremy Thomas juga mengakui hal yang sama. Ia mengaku sudah habis Rp 450 juta untuk kampanye di dapilnya, Riau.

Caleg DPR Golkar dari Dapil Maluku, Marleen Petta, menekankan, kampanyenya pada sosialisasi pemberian suara dan penggalangan dukungan. Cara ini pun cukup mahal. Meski awalnya enggan menyebut angka, Marleen mengaku sudah mengeluarkan Rp 500 juta untuk berkampanye. Seperti apa model kampanyenya?

"Kampanye saya variatif, untuk sosialisasi dan penggalangan. Untuk diri sendiri lebih ke pemasangan baliho, kemudian spot iklan di tv lokal," kata Marleen yang seorang advokat. Ia merinci menyiapkan 500 baliho, 100.000 stiker, dan tak kurang dari 200.000 kartu nama. "Ini pengalaman pertama saya jadi caleg. Tapi politik tidak baru untuk saya karena saya juga aktif di DPP Golkar," katanya.

Lain halnya dengan putra politisi senior Theo Sambuaga, Jerry Sambuaga. Ia tak mau menyebut angka yang sudah dikeluarkannya untuk kampanye. Jerry hanya mengatakan, jumlah yang dihabiskannya tak sebanyak rekan-rekannya. "Saya kan bukan artis, jauh enggak sampe sebesar itu. Budget-nya enggak banyak kok," ujar caleg dari Dapil DKI Jakarta ini.

Ia mengutarakan, strategi kampenye yang diterapkannya melalui pendekatan dialog dan memanfaatkan teknologi. "Lewat website dan facebook," katanya.

Biaya mahal tentunya berbekal harapan mendatangkan hasil yang sebanding. Bagi rakyat, paling hanya berharap, kursi empuk Senayan tak membuat wakil-wakilnya lupa dengan apa yang mereka dijanjikan untuk diperjuangkan....

Inggried Dwi Wedhaswary