Dalam blog ini anda akan menemukan artikel ataupun berita yang bertema "jelang pemilu." Ini diperlukan karena saat ini terjadi banjir informasi, sehingga informasi tentang pemilu ataupun pilkada terselip di antara informasi-informasi lain. Berita korupsi, misalnya, tetap menjadi berita paling "panas." Padahal peristiwa pemilu/pilkada itu penting karena inilah saat warganegara memakai haknya, terutama hak untuk memilih pemimpin mereka. Liku-liku pemilu yang sungguh berliku-liku ini mesti dicermati dengan informasi yang terfokus. Di atas semua itu, atas dasar "licentia presumpta," terima kasih kepada kawan-kawan yang mengijinkan tulisannya dimuat di sini.
Kerangka
Pemilu memperlihatkan fenomen yang amat menarik. Di satu pihak, ia menunjukkan bagaimana rakyat memakai kebebasannya untuk "menghukum atau mengganjar" partai-partai politik. Di lain pihak, pemilu juga menampilkan sisi hubungan antara uang dan kuasa, yang ruwet. Kuasa membutuhkan uang, dan uang membutuhkan kuasa. Simbiosis ini seharusnya berjalan manis, namun uang dan kuasa pada masa pemilu ini saling menelikung. Partai politik mengeluarkan sedemikian banyak dana (dalam trilyun!) yang ditarik dari pengusaha. Pemilik duit mendukung karena mereka berharap partai yang didukungnya akan menang. Namun partai politik sering menguras pengusaha, sehingga membuat pemilik duit (pengusaha!) "kehabisan" dana. Orang-orang partai berkelakuan sebagai pemeras atau preman.
Situasi ini sungguh menarik sebagai kajian antara pasar dan civil society. Dua kekuatan yang jarang bertabrakan langsung, kini terang-terangan beroposisi. Tesis yang dikemukakan oleh Mancur Olson dalam Power and Prosperity menuduh para politisi yang menguras pemilik duit bagaikan "roving bandits" . Mumpung mereka berkuasa, mereka menguras para pemilik duit Nah, karena diperas oleh partai, pemilik duit (tentu saja pengusaha) balik memeras anggota civil society yang rentan. Gaji buruh ditekan, misalnya.
Di mana negara? Negara semestinya memberi jaminan keamanan kepada pengusaha, tetapi dalam hal ini negara tidak mungkin bertindak karena pemilu sudah dikelola oleh KPU. Bagi negara, memang lebih baik diam dan berpangku tangan! Jadi, clash antara pasar dan civil society tak terelakkan.
Implikasi dari keadaan ini tentu panjang. Bisa-bisa pertumbuhan demokrasi di Indonesia menjadi terengah-engah akibat pertarungan ini. Mari kita amati dan cermati perkembangan yang menarik ini.
No comments:
Post a Comment